Awalnya saya cuma ingin bikin project lebih cepat. Tapi yang terjadi justru berulang: lagi tambah fitur, debugging, atau eksperimen, usage habis dan pekerjaan berhenti.
Supaya project tetap jalan, saya pindah tool, setup ulang, coba workflow lain, dan berkali-kali beli token lagi.
Kalau ditotal, saya pernah menghabiskan jutaan rupiah dan jutaan token hanya untuk trial-error, revisi, debugging, dan mencari cara kerja yang akhirnya nyaman dipakai.
Yang bikin capek bukan cuma uangnya. Ritme kerja ikut rusak. Lagi dapat ide, berhenti. Lagi debugging, berhenti. Lagi mau menyelesaikan feature, malah sibuk mikirin sisa usage.
Dari situ saya berhenti mencari AI baru dan mulai membangun workflow yang menyatukan AI dengan environment kerja saya sendiri.
Dari proses itulah lahir APOPS Method for Automation Modular.







